Selasa, 31 Januari 2012

Wawasan kebangsaan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Wawasan kebangsaan sebagai sudut pandang suatu bangsa dalam memahami keberadaan jati diri dan lingkungannya pada dasarnya merupakan penjabaran dai falsafah bangsa itu sesuai dengan keadaan wilayah suatu negara dan sejarah yang dialami. Wawasan ini menentukan cara suatu bangsa memanfaatkan kondisi geografis, sejarah, sosial budayanya dalam mencapai cita-cita dan menjamin kepentingan nasionalnya serta bagaimana bangsa itu memandang diri dan lingkungannya baik ke dalam maupun ke luar.
Banyak kalangan yang melihat perkembangan politik, sosial, ekonomi dan budaya di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, kekhawatiran itu menjadi semakin nyata ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warganegara, yakni memudarnya wawasan kebangsaan. Apa yang lebih menyedihkan lagi adalah bilamana kita kehilangan wawasan tentang makna hakekat bangsa dan kebangsaan yang akan mendorong terjadinya dis-orientasi dan perpecahan.

Pandangan di atas sungguh wajar dan tidak mengada-ada. Krisis yang dialami oleh Indonesia ini menjadi sangat multi dimensional yang saling mengait. Krisis ekonomi yang tidak kunjung henti berdampak pada krisis sosial dan politik, yang pada perkembangannya justru menyulitkan upaya pemulihan ekonomi. Konflik horizontal dan vertikal yang terjadi dalam kehidupan sosial merupakan salah satu  akibat dari semua krisis yang terjadi, yang tentu akan melahirkan ancaman dis-integrasi bangsa. Apalagi bila melihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural seperti beragamnya suku, budaya daerah, agama, dan berbagai aspek politik lainnya, serta kondisi geografis negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengandung potensi konflik (latent sosial conflict) yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Dewasa ini, dampak krisis multi-dimensional ini telah memperlihatkan tanda-tanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self-confidence) dan rasa hormat diri (self-esteem) sebagai bangsa. Krisis kepercayaan sebagai bangsa dapat berupa keraguan terhadap kemampuan diri sebagai bangsa untuk mengatasi persoalan-persoalan mendasar yang terus-menerus datang, seolah-olah tidak ada habis-habisnya mendera Indonesia. Aspirasi politik untuk merdeka di berbagai daerah, misalnya, adalah salah satu manifestasi wujud krisis kepercayaan diri sebagai satu bangsa, satu “nation”.

Apabila krisis politik dan krisis ekonomi sudah sampai pada krisis kepercayaan diri, maka eksistensi Indonesia sebagai bangsa (nation) sedang dipertaruhkan. Maka, sekarang ini adalah saat yang tepat untuk melakukan reevaluasi terhadap proses terbentuknya “nation and character building” kita selama ini, karena boleh jadi persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini berawal dari kesalahan dalam menghayati dan menerapkan konsep awal “kebangsaan” yang menjadi fondasi ke-Indonesia-an. Kesalahan inilah yang dapat menjerumuskan Indonesia, seperti yang ditakutkan Sukarno, “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.” Bahkan, mungkin yang lebih buruk lagi dari kekuatiran Sukarno, “menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa”.[1]
Di samping itu,  timbul pertanyaan mengapa akhir-akhir ini wawasan kebangsaan menjadi banyak dipersoalkan. Apabila kita coba mendalaminya, menangkap berbagai ungkapan masyarakat, terutama dari kalangan cendekiawan dan pemuka masyarakat, memang mungkin ada hal yang menjadi keprihatinan. Pertama, ada kesan seakan-akan semangat kebangsaan telah menjadi dangkal atau tererosi terutama di kalangan generasi muda–seringkali disebut bahwa sifat materialistik mengubah idealisme yang merupakan jiwa kebangsaan. Kedua, ada kekuatiran ancaman disintegrasi kebangsaan, dengan melihat gejala yang terjadi di berbagai negara, terutama yang amat mencekam adalah perpecahan di Yugoslavia, di bekas Uni Soviet, dan juga di negara-negara lainnya seperti di Afrika, dimana paham kebangsaan merosot menjadi paham kesukuan atau keagamaan. Ketiga, ada keprihatinan tentang adanya upaya untuk melarutkan pandangan hidup bangsa ke dalam pola pikir yang asing untuk bangsa ini.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian sosial budaya?
2.      Apakah pengertian wawasan kebangsaan?
3.      Apakah pengertian ketahanan nasional?
4.      Apakah maksud dari keragaman sosial budaya sebagai kekuatan bangsa?
5.      Apakah maksud wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional.
6.      Apa yang dapat dilakukan oleh generasi muda untuk mengembangkan sosial budaya?
7.      Apa yang dapat dilakukan oleh generasi muda untuk memperkuat kekuatan nasional?
8.      Bagaimanakah keadaan sosial budaya, wawasan kebangsaan dan kekuatan nasional di Indonesia sekarang ini?
9.      Apakah hubungan antara sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai ketahanan nasional?
10.  Bagaimanakah sosialisasi sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional terhadap masyarakat?








C.     Tujuan Penelitian
1.      Menjelaskan pengertian sosial budaya dalam kerangka NKRI.
2.      Menjelaskan pengertian wawasan kebangsaan dalam kerangka NKRI.
3.      Menjelaskan pengertian ketahanan nasional dalam kerangka NKRI.
4.      Menjelaskan keragaman sosial budaya sebagai kekuatan bangsa.
5.      Menjelaskan wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional.
6.      Menjelaskan peranan generasi muda dalam perkembangan sosial budaya.
7.      Menjelaskan peranan generasi muda dalam kekuatan nasional.
8.      Menjelaskan keadaan dan perkembangan sosial budaya, wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional.
9.      Menjelaskan hubungan sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai ketahanan nasional.
10.  Menjelaskan sosialisasi sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional.


D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1.      Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan referensi bagi pembaca untuk menambah wawasan tentang sosial budaya, wawasan kebagsaan dan ketahanan nasional dalam hubungan sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional.
2.      Manfaat praktis
a.       Bagi penyusun
Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang sosial budaya, wawasan kebangsaan serta ketahanan nasional dan perkembangannya dalam negara Indonesia.
b.      Bagi masyarakat dan pembaca
·         Dapat menjelaskan pengertian sosial budaya dalam kerangka NKRI.
·         Dapat menjelaskan pengertian wawasan kebangsaan dalam kerangka NKRI.
·         Dapat menjelaskan pengertian ketahanan nasional dalam kerangka NKRI.
·         Dapat menjelaskan keragaman sosial budaya sebagai kekuatan bangsa.
·         Dapat menjelaskan wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional.
·         Dapat menjelaskan peranan generasi muda dalam perkembangan sosial budaya.
·         Dapat menjelaskan peranan generasi muda dalam kekuatan nasional.
·         Dapat menjelaskan keadaan dan perkembangan sosial budaya, wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional.
·         Dapat menjelaskan hubungan sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai ketahanan nasional.
·         Dapat menjelaskan sosialisasi sosial budaya dan wawasan kebangsaan sebagai kekuatan nasional.


E.     Pembatasan Masalah
Penyusun membatasi permasalahan pada materi:
1.      Sosial budaya.
2.      Wawasan kebangsaan.
3.      Ketahanan nasional.
4.      Hubungan antara sosial budaya, wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional.




F.      Metode dan Teknik
1.      Studi Pustaka
2.      Penelitian lapangan
3.      Wawancara
4.      Diskusi


G.    Sistematika Penulisan





















BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial dan masyarakat.

B.     Kebudayaan

C.     Negara dan Bangsa

D.    Keadaan Masyarakat Indonesia

E.     Partisipasi Masyarakat


















BAB lll
METODE PENELITIAN

A.   Metode dan Pendekatan
Penelitian ini, menggunakan metode kualitatif yaitu metode yang mengungkapkan atau menguraikan data-data yang diperoleh di lapangan dengan kalimat-kalimat bukan diungkapkan dengan angka-angka. Seperti apa yang di ungkapkan oleh Edraswaea (2003:14-15) Mengungkapkan bahwa pendekatan penelitian kualitatif biasanya mengejar data verbal yang lebih mewakaili fenomena. Penelitian kualitatif mengutamakan data yang diperoleh dari lapangan, biasanya tidak terstruktur dan relatif banyak sehingga memungkinkan peneliti untuk menata, mengkritisi dan mengklasifikasikan agar lebih menarik.

B.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah suatu cara atau usaha untuk memperoleh bahan-bahan informasi atau fakta, keterangan atau kenyataan yang benar serta dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Penelitian selain menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan penggunaan data yang tepat akan dapat diperoleh data yang objektif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian bermaksud untuk memperoleh data yang relevan, dan akurat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)       Teknik Observasi
Pengumpulan data untuk suatu tulisan ilmiah data melalui observasi. Observasi adalah pengamatan tidak langsung terhadap suatu objek yang di teliti, yaitu sosial budaya dan wawasan kebangsaan serta ketahanan nasional. Observasi bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek penelitian serta untuk mengetahui sejauh mana kebenaran data yang dikumpulkan.
2)      Teknik Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai  yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong , 2002:135)
Dalam mengumpulkan data dengan metode wawancara,  penulis mencari informasi kepada informan-informan antara lain : guru PKn dan  guru sosiologi. Penulis mengambil informan tersebut dengan alasan informan-informan ini menguasai dan mengetahui tentang kesenian sosial budaya dan wawasan kebangsaan serta ketahanan nasional.

C.   Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan serangkaian kegiatan untuk mengatur  transkrip, wawancara, filed notes dan materi lainnya yang berguna bagi peningkatan pemahaman penelitian mengenai subjek  penelitian dan memungkinkan untuk menyampaikan semuanya kepada orang lain . Kegiatan analisis data mencangkup tentang pengorganisasian data, menemukan data mana yang penting dan harus didalami, dan menentukan data mana yang perlu dilaporkan serta diinformasikan kepada masyarakat ( Jazuli , 2001:42).
Adapun proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan, catatan lapangan dokumen-dokumen dan sebagainya setelah dibaca, dipelajari dan ditelaah, maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya.





BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Sosial Budaya
v    Pengertian Sosial Budaya
Istilah sosial budaya menunjuk kepada dua segi kehidupan bersama manusia, yaitu segi kemasyarakatan dan segi kebudayaan.
1.      Kemasyarakatan
Dalam usahanya beradaptasi dengan lingkungannya, manusia bekerjasama dengan sesamanya, dengan kata lain bermasyarakat. Akan tetapi kerja sama itu hanya akan berjalan baik di dalam tertib sosial budaya serta di dalam wadah organisasi sosial. Organisasi sosial ini merupakan produk sosial budaya, sekaligus merupakan wadah perwujudan dan pertumbuhan kebudayaan.
Di dalam organisasi sosial manusia hidup berkelompok dan mengembangkan norma sosial yang meliputi kehidupan normatif, status, kelompok asosiasi, dan institusi. Organisasi sosial juga mencakup aspek fungsi yang mewujudkan diri dalam aktifitas bersama anggota masyarakat dan aspek struktur. Aspek struktur terdiri dari struktur kelompok di dalam pola umum kebudayaan dan seluruh kerangka lembaga sosial.
Setiap masyarakat mempunyai empat unsur penting yang menentukan eksistensinya yaitu struktur sosial, pengawas sosial, media sosial dan standar sosial.
a.       Struktur sosial
Setiap masyarakat terdiri dari kelompok0kelompok untuk memudahkan pelaksanaan tugas.
b.      Pengawas sosial
Pengawas sosial mencakup sistem dari ketentuan-ketentuan yang mengatur kegiatan dan tindakan anggota msyarakat, pengetahuan empiris yang digunakan manusia untuk mengulangi lingkungan, dan pengetahuan empiris yang mengatur sikap dan tingkah laku manusia seperti agama, kepercayaan, ideologi dan sebagainya.
c.       Media sosial
Dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan sosial, diperlukan adanya komunikasi dan relasi antar anggota masyarakat. Komunikasi dan relasi itu dilangsungkan dengan menggunakan bahasa dan alat transportasi.
d.      Standar sosial
Standar sosial merupakan ukuran untuk menilai tingkah laku anggota masyarakat serta menilai tingkah cara masyarakat mencapai tujuan.
2.      Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan cara masyarakat yang perwujudannya tampak pada tingkah laku para anggotanya. Kebudayaan tercipta oleh banyak faktor orga biologis manusia, lingkungan alam, lingkungan sejarah, dan lingkungan psikologis. Masyarakat budaya membentuk pola budaya berupa nilai misalnya keagamaan, ekonomi, ideologi, dan sebagainya.

Setelah dikemukakan masing-masing arti kata dari sosial budaya, maka pengertian sosial budaya dapat dirumuskan adalah sebagai kondisi masyarakat (bangsa) yang mempunyai nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara yang dilandasi denga falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketahanan di bidang sosial budaya dimaksud menggambarkan kondisi dinamis suatu, bangsa (masyarakat), berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan penegmbangan kekuatan nasional di dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan, dari dalam maupun dari luar yang langsung maupun tudak langsung membahayakan kelangsungan kehidupa sosial budaya bangsa dan negara.

v    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Dibidang Sosial Budaya
1.      Tradisi ini memberikan kepada masyarakat/bangsa seperangkat nilai dan kaidah yang diperlukan untuk menjawab tantangan setiap tahap perkembangan. Tradisi sosial ini pada dasarnya bersifat dinamis, karena itu nilai-nilai serta kaidah-kaidah yang tidak dapat menjawab tantangan akan lenyap serta wajar. Dalam hal ini perlu dihindari ialah tradisionalisme, yaitu sikap atau pandangan menuju dan mempertahankan “peninggalan masa lampau secara berlebiha dan tidak wajar.” Masyarakat harus dapat menilai dan menyadari bahwa suatu tradisi tertentu pada suatu tahap perkembangan mungkin tidak sejalan sehingga merugikan dan menghambat kemajuan.
2.      Pendidikan
Pendidikan merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap ketahanan di bidang sosial budaya. Melalui pandidikan, masyarakat akan memperoleh kemampuan untuk menilai tradisi yang sudah tidak sesuai lagi. Pendidikan bersifat mengubah secara tertib ke arah tujuan yang dikehendaki. Pendidikan dalam arti luas ialah usaha untuk mendewasakan manusia agar dapat mengembangkan potensinya serta berperan serta secara penuh dalam menumbuhkan kehidupan sosial sesuai dengan tuntutan jaman. Untuk itu diperlukan adanya suatu sistem pendidikan yang kondusif sehingga mampu membawa masyarakat ke arah pencapaian tujuannya.
Sistem pendidikan mempunyai berbagai sarana diantaranya yang penting adalah:
a.       Seluruh aparatur pemerintahan modern.
b.      Sarana komunikasi masa.
c.       Pendidikan formal dan non formal.
d.      Sarana masa.
e.       Kehidupan kota.
Di dalam masyarakat berkembang inisiatif pemerintah dan potensi yang ada padanya merupakan yang paling kuat dan mampu menggerakan pendidikan secara luas. Pemerintah harus mampu mengatur pendidikan formal berencana dengan memanfaatkan segenap sistem komunikasi yang tersedia dan adanya kata merangsang harapan baru serta keinginan berkompetisi untuk kemajuan.
3.      Kepemimpinan dan Penyelenggara Negara
Unttuk membina dan membangun masyarakat modern, diperlukan kepemimpinan nasional yang kuat dan berwibawa. Kepemimpinan yang demikian ditentukan oleh banyak faktor, yaitu pribadi (moral, akhlak, semangat dan akuntabilitas) pemimpin, komitmen pimpinan, tujuan nasional, nilai-nilai sosial budaya, keadaan sosial atau masyarakat, sistem politik dan ilmu pengetahuan.
4.      Tujuan Nasional
Tujuan nasional dapat merupakan unsur pengarah, pemersatu, pemberi motivasi, dan merupakan salah satu identitas nasional. Tujuan nasional selalu berintikan falsafah negara.
5.      Kepribadian Nasional
Kepribadian nasional merupakan hasil perkembangan sejarah dan cita-cita bangsa yang dirumuskan sebagai dasar kehidupan bangsa. Kepribadian ini perlu dipupuk, dibina dan dimasyarakatkan pada setiap generasi karena kepribadian nasional inilah merupakan daya tangkal yang sangat strategis untuk menghadapi tantangan pengaruh asing.
6.      Bidang pertahanan dan keamanan
Pertahanan dan keamanan adalah upaya rakyat semesta dengan TNI dan POLRI sebagai intinya. Merupakan fungsi pemerintahan Ketahanan Nasional dengan tujuan mencapai keamanan bangsa dan negara serta keamanan hasil perjuangannya. Pelaksanaannya dilakukan dengan menyusun, mengerahkan, serta menggerakkan seluruh potensi dan kekuatan masyarakat dalam semua bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi
B.     Wawasan Kebangsaan
v    Pengertian Wawasan Kebangsaan
1.                     Pengertian Wawasan Kebangsaan
Istilah wawasan kebangsaan terdiri dari dua suku kata yaitu “Wawasan” dan “Kebangsaan”. Secara etimologi menurut kamus besar bahasa Indonesia (1989) istilah wawasan berati (1) hasil mewawas; tinjauan; pandangan dan dapat juga berati (2) konsepsi cara pandang. Dalam kamus tersebut diberikan contoh “Wawasan Nusantara” yaitu wawasan (konsepsi cara pandang) dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Lebih lanjut diberikan pula contoh dalam pengertian lain seperti “Wawasan Sosial”, sebagai “kemampuan untuk memahami cara-cara penyesuaian diri atau penempatan diri di lingkungan sosial”.

   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar