Selasa, 31 Januari 2012

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Rangkuman

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


1. Teori Pembelajaran Konstrustivisme

Dalam konteks Filsafat Pendidikan, konstruktifisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Dalam proses pembelajaran konsep ini menghendaki agar anak didik dapat dibandingkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa Prinsip tentang Konstruktifis Ada lima prinsip dasar tentang konstruktifis meliputi :
a. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
b. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
c. Mencari dan menilai pendapat siswa
d. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
e. Menilai belajar siswa dalam konteks pengajaran.
Hakekat pembelajaran konstruktifistik ini ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktifitas kreatif produktif dalam konsteks nyata yang mendorong si belajar untuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemonstrasikan.




2. Teori Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning)
Kontekstual jika diambil daripada ayat asalnya dalam Bahasa Inggeris (asal bahasa Latin con = with + textum = woven) bermaksud mengikut konteks atau dalam konteks. Konteks pula membawa maksud keadaan, situasi dan kejadian.
Secara umum, kontekstual membawa pengertian:
- Yang berkenaan, releven, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikut konteks.
- Yang membawa maksud, makna dan kepentingan (meaningful).
Oleh itu, kaedah kontekstual iaitu kaedah yang dibentuk berasaskan maksud kontekstual itu sendiri, seharusnya mampu membawa pelajar ke matlamat pembelajaran isi dan konsep yang berkenaan atau releven bagi mereka, dan juga memberi makna dalam kehidupan seharian mereka.
Pengajaran-pembelajaran kontekstual merupakan satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenar dan memotivasikan pelajar untuk membuat perkaitan antara pengetahuan dengan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat dan pekerja.



3. Pembelajaran Quantum Teaching
Quantum learning bisa jadi merupakan teori pembelajaran yang paling handal pada saat ini. Penggabungan dari beberapa model pengajaran dan pembelajaran seperti accelerated learning, multiple inteligencies, brain research, neuro-linguistic programming, learning modalities, experiental learning dan kooperative learning terpadu dalam suatu pengetahuan tunggal yang menghasilkan suatu pembelajaran yang sangat bertenaga. Seperti orkestra dalam sebuah simfoni, berbagai elemen ini diorkestra secara hati-hati untuk menciptakan suatu pengalaman belajar yang lebih lengkap dan menyenangkan. Jadi dapat dinyatakan bahwa quantum learning merupakan kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.


4. Teori Multiple Intelegensi (Kecerdasan Majemuk) 
Konsep Multiple Intelegensi (MI), menurut Gardner (1983) dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple intelegences, ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu yaitu linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses informasi yang akan masuk ke dalam dirinya. Karena itu Amstrong (2002) menyebutkan, kecerdasan tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas.


5. Brain Storming Learning
Brainstorming merupakan model pembelajaran yang dikenal sebagai teknik untuk mendapatkan ide-ide kreatif sebanyak mungkin dalam kelompok. Bagi yang belum mengenal brainstorming, teknik ini didasarkan atas empat syarat. Kelompok yang mengikuti brainstorming harus:
·      Menghasilkan ide-ide sebanyak mungkin
·      Menghasilkan ide-ide yang segila mungkin
·      Membangun ide dari ide-ide sebelumnya
·      Menghindari penilaian atas ide-ide yang dihasilkan .
Dalam buku yang terkenal, Applied Imagination karangan Alex Osborn, teknik brainstorming dikatakan mampu membuat individu menghasilkan ide dua kali lebih banyak dibanding bila bekerja sendirian.




6. Accelerated Learning
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning/AL) adalah salah satu cara belajar alamiah yang menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pebelajar, membuat belajar lebih menyenangkan dan memuaskan serta memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan. Ciri dari AL adalah mementingkan tujuan, bekerja sama, luwes, gembira, banyak cara, melibatkan emosional dan multi indrawi, serta mengutamakan hasil.
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning/AL) merupakan pendekatan yang sistematis terhadap pengajaran untuk seluruh orang yang berisi elemen-elemen khusus, yang ketika digunakan bersama mendorong siswa untuk belajar lebih cepat, efektif dan menyenangkan (Bobby Deporter). Tujuan AL adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan mereka sebagai manusia.
































Komentar saya berkaitan dengan penilaian hasil belajar, mengenai ujian nasional yang di adakan pada saat ini.

Ujian nasional yang saat ini sedang menjadi pro dan kontra merupakan wacana dalam dunia pendidikan di negara kita. Ujian nasional yang pada awalnya merupakan solusi dari peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia pada kenyataannya sekarang ini menjadi permasalahan baru bagi dunia pendidikan. Dalam pelaksanaan di lapangan ujian nasional justru mencerminkan kebobrokan system pendidikan di negara kita. Sering kita saksikan di berbagai media masa maupun media elektronik banyak pihak yang melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Baik oknum sekolah, murid, bahkan guru karena terpaku aturan harus lulusnya seorang siswa dalam ujian nasional dengan patokan nilai tertentu. Kecurangan semacam ini disebabkan oleh berbagai factor. Diantaranya yang paling urgent adalah menyangkut nama baik siswa, guru, maupun sekolah di lingkungan civitas akademik masing-masing.




Solusi Kontributif dari permasalahan di atas menurut saya adalah:

Ujian nasional tetap dilaksanakan setiap tahun karena merupakan tolok ukur kemampuan pendidikan di Indonesia. Akantetapi dalam pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan sekolah atau daerah tertentu. Karena setiap daerah di Indonesia memiliki kemampuan pendidikan yang berbeda-beda. Sehingga untuk materi ujian nasional dibuat sendiri oleh dinas pendidikan daerah terkait. Hal ini disebabkan oleh kurikulum yang berlaku saat ini adalah KTSP, yang mana seorang guru atau sekolah dituntut untuk membuat materi yang disesuaikan dengan kemampuan anak didiknya masing-masing. Jadi, materi yang diujikan sesuai dengan apa yang dipelajari oleh siswa pada daerah masing-masing. Sehingga dalam pelaksanaannya dilapangan bisa lebih berkualitas dan tidak terjadi lagi berbagai masalah yang timbul seperti sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar