Rangkuman
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
1. Teori Pembelajaran Konstrustivisme
Dalam konteks Filsafat
Pendidikan, konstruktifisme adalah suatu upaya membangun tata
susunan hidup yang berbudaya modern. Dalam proses
pembelajaran konsep ini menghendaki agar anak didik dapat
dibandingkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri
dengan tuntutan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa
Prinsip tentang Konstruktifis Ada lima
prinsip dasar tentang konstruktifis meliputi :
a. Menghadapi masalah yang relevan dengan
siswa.
b. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
c. Mencari dan menilai pendapat siswa
d. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
e. Menilai belajar siswa dalam konteks pengajaran.
b. Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
c. Mencari dan menilai pendapat siswa
d. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
e. Menilai belajar siswa dalam konteks pengajaran.
Hakekat pembelajaran
konstruktifistik ini ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan
pemahaman baru yang menuntut aktifitas kreatif produktif dalam konsteks nyata
yang mendorong si belajar untuk berfikir dan berfikir ulang lalu
mendemonstrasikan.
2. Teori Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning)
Kontekstual jika diambil daripada ayat asalnya
dalam Bahasa Inggeris (asal bahasa Latin con
= with + textum = woven) bermaksud
mengikut konteks atau dalam konteks. Konteks pula membawa maksud keadaan,
situasi dan kejadian.
Secara umum, kontekstual membawa pengertian:
- Yang
berkenaan, releven, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikut konteks.
- Yang
membawa maksud, makna dan kepentingan (meaningful).
Oleh itu, kaedah kontekstual iaitu kaedah yang
dibentuk berasaskan maksud kontekstual itu sendiri, seharusnya mampu membawa
pelajar ke matlamat pembelajaran isi dan konsep yang berkenaan atau releven
bagi mereka, dan juga memberi makna dalam kehidupan seharian mereka.
Pengajaran-pembelajaran kontekstual merupakan
satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan
subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenar dan memotivasikan pelajar
untuk membuat perkaitan antara pengetahuan dengan aplikasinya dalam kehidupan harian
mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat dan pekerja.
3. Pembelajaran Quantum
Teaching
Quantum learning bisa
jadi merupakan teori pembelajaran yang paling handal pada saat ini.
Penggabungan dari beberapa model pengajaran dan pembelajaran seperti
accelerated learning, multiple inteligencies, brain research, neuro-linguistic
programming, learning modalities, experiental learning dan kooperative learning
terpadu dalam suatu pengetahuan tunggal yang menghasilkan suatu pembelajaran
yang sangat bertenaga. Seperti orkestra dalam sebuah simfoni, berbagai elemen
ini diorkestra secara hati-hati untuk menciptakan suatu pengalaman belajar yang
lebih lengkap dan menyenangkan. Jadi dapat dinyatakan bahwa quantum learning
merupakan kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat
mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu
proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
4. Teori Multiple
Intelegensi (Kecerdasan Majemuk)
Konsep Multiple
Intelegensi (MI), menurut Gardner (1983) dalam bukunya Frame of Mind: The
Theory of Multiple intelegences, ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki
setiap individu yaitu linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani,
musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis
kecerdasan ini, setiap individu mengakses informasi yang akan masuk ke dalam
dirinya. Karena itu Amstrong (2002) menyebutkan, kecerdasan tersebut merupakan
modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai
sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas.
5. Brain Storming
Learning
Brainstorming merupakan model pembelajaran yang dikenal
sebagai teknik untuk mendapatkan ide-ide kreatif sebanyak mungkin dalam
kelompok. Bagi yang belum mengenal brainstorming, teknik ini didasarkan atas
empat syarat. Kelompok yang mengikuti brainstorming harus:
·
Menghasilkan
ide-ide sebanyak mungkin
·
Menghasilkan
ide-ide yang segila mungkin
·
Membangun
ide dari ide-ide sebelumnya
·
Menghindari
penilaian atas ide-ide yang dihasilkan .
Dalam buku yang terkenal, Applied Imagination karangan Alex Osborn, teknik brainstorming dikatakan mampu
membuat individu menghasilkan ide dua kali lebih banyak dibanding bila bekerja
sendirian.
6. Accelerated Learning
Pembelajaran
Akselerasi (Accelerated Learning/AL) adalah salah satu cara belajar alamiah
yang menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pebelajar, membuat belajar
lebih menyenangkan dan memuaskan serta memberikan sumbangan sepenuhnya pada
kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan. Ciri dari AL adalah mementingkan
tujuan, bekerja sama, luwes, gembira, banyak cara, melibatkan emosional dan
multi indrawi, serta mengutamakan hasil.
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning/AL) merupakan pendekatan yang sistematis terhadap pengajaran untuk seluruh orang yang berisi elemen-elemen khusus, yang ketika digunakan bersama mendorong siswa untuk belajar lebih cepat, efektif dan menyenangkan (Bobby Deporter). Tujuan AL adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan mereka sebagai manusia.
Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning/AL) merupakan pendekatan yang sistematis terhadap pengajaran untuk seluruh orang yang berisi elemen-elemen khusus, yang ketika digunakan bersama mendorong siswa untuk belajar lebih cepat, efektif dan menyenangkan (Bobby Deporter). Tujuan AL adalah menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan mereka sebagai manusia.
Komentar saya berkaitan dengan penilaian hasil belajar,
mengenai ujian nasional yang di adakan pada saat ini.
Ujian nasional yang saat ini
sedang menjadi pro dan kontra merupakan wacana dalam dunia pendidikan di negara
kita. Ujian nasional yang pada awalnya merupakan solusi dari peningkatan
kualitas pendidikan di Indonesia
pada kenyataannya sekarang ini menjadi permasalahan baru bagi dunia pendidikan.
Dalam pelaksanaan di lapangan ujian nasional justru mencerminkan kebobrokan
system pendidikan di negara kita. Sering kita saksikan di berbagai media masa
maupun media elektronik banyak pihak yang melakukan kecurangan dalam
pelaksanaan ujian nasional. Baik oknum sekolah, murid, bahkan guru karena
terpaku aturan harus lulusnya seorang siswa dalam ujian nasional dengan patokan
nilai tertentu. Kecurangan semacam ini disebabkan oleh berbagai factor.
Diantaranya yang paling urgent adalah menyangkut nama baik siswa, guru, maupun
sekolah di lingkungan civitas akademik masing-masing.
Solusi Kontributif dari permasalahan di atas menurut
saya adalah:
Ujian nasional tetap
dilaksanakan setiap tahun karena merupakan tolok ukur kemampuan pendidikan di
Indonesia. Akantetapi dalam pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan
dan keadaan sekolah atau daerah tertentu. Karena setiap daerah di Indonesia
memiliki kemampuan pendidikan yang berbeda-beda. Sehingga untuk materi ujian
nasional dibuat sendiri oleh dinas pendidikan daerah terkait. Hal ini
disebabkan oleh kurikulum yang berlaku saat ini adalah KTSP, yang mana seorang
guru atau sekolah dituntut untuk membuat materi yang disesuaikan dengan
kemampuan anak didiknya masing-masing. Jadi, materi yang diujikan sesuai dengan
apa yang dipelajari oleh siswa pada daerah masing-masing. Sehingga dalam
pelaksanaannya dilapangan bisa lebih berkualitas dan tidak terjadi lagi berbagai
masalah yang timbul seperti sekarang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar