Selasa, 31 Januari 2012

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD N SENGON 01 BATANG



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat siswa serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga fakta penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Suyoso (1998:23) dalam http:/juhji-science-sd.blog.com, IPA merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat metode tertentu yaitu temperatur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal.

1
 
            Tujuan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar seperti diamanatkan dalam kurikulum KTSP tidaklah hanya sekedar siswa memiliki pemahaman tentang alam semesta saja, melainkan melalui pendidikan IPA siswa juga diharapkan memiliki, (1) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, (2) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, (3) meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. Oleh karena itu IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang penting bagi siswa karena perannya sangat  berguna dalam kehidupan sehari-hari. (Sri Sulistyorini 2007:42).
Empat pilar pendidikan.“Learning to do, learning to know, learning to be, and learning to livetogether” yang dicanangkan oleh UNESCO merupakan salah satu pendekatan yang perlu digunakan di dalam pembelajaran sains di kelas. Siswa harus diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do), mampu membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia di sekitarnya (learning to know), mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan diri dan sekaligus membangun jati diri (learning to be), mampu membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup (learning to live together). Belajar melalui pengalaman (Learning by doing) dalam bentuk eksplorasi dan memanipulasi akan menjadikan sesuatu yang dipelajari diingat untuk waktu yang lama (Long-tern memory). Dan khususnya bagi anak-anak usia sekolah dasar, sesuai dengan tahap perkembangannya, mereka lebih mudah memahami suatu fenomena malalui pengalaman kongkrit dibandingkan hanya mendengar dari guru saja. Dalam “pembelajaran melalui menemukan “intinya adalah kerja kelompok, penugasan, dan berbagi informasi. Dalam hal ini guru perlu merancang langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Menentukan hasil belajar siswa dan merancang tugas
2.      Merancang tahapan atau langkah-langkah sebagai pedoman kegiatan siswa
3.      Memastikan siswa telah memahami konsep dan prinsip yang relevan
4.      Menugaskan siswa dalam kerja kelompok/individual
5.      Memberi kesempatan siswa melaporkan temuannya dan mendorong mereka mengidentifikasi bagaimana mereka dapat menerapkan temuan mereka dalam konteks yang lain.
6.      Memberi balikan dan pengayaan sebagaimana diperlukan. (Udin S.  Winaputra, 2008:6.25)
            Data yang diperoleh penulis dari hasil tes formatif pada mata pelajaran IPA pokok bahasan Energi pada siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang sungguh memprihatinkan. Kelas IV yang terdiri dari 40 siswa (Lk:21, P:19) 12,82 % (mendapatkan nilai 80-85), 23,07 % (mendapatkan nilai70-79), 35,89 % (mendapatkan nilai 60-69), 28,20 % (mendapatkan nilai 50-59). Mata pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang disukai siswa. Siswa sebagai individu dalam kelas hanya duduk mendengarkan, mencatat, dan mengulang kembali di rumah serta menghafal untuk menghadapi ulangan, ketika mengikuti kegiatan pembelajaran sering tidak memperhatikan penjelasan dari guru, dan rendahnya motivasi untuk mengikuti pelajaran. Begitu juga peranan siswa dalam sebuah kelompok, rendahnya motivasi dan gairah dalam diskusi kelompok dan lebih mengandalkan temannya yang lebih pintar untuk menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan guru tanpa adanya suatu pemikiran bahwa menyelesaikan tugas atau diskusi kelompok menjadi tanggung jawab setiap anggota kelompok.  Akibatnya rata-rata hasil belajar siswa cenderung lebih rendah dibandingkan mata pelajara lainnya. Rendahnya hasil belajar IPA siswa dibanding mata pelajaran lain karena guru kurang kreatif dalam penyampaian materi pembelajaran. Guru lebih berfungsi sebagai instruktur yang sangat aktif dan siswa sebagai penerima pengetahuan yang pasif. Pembelajaran seperti ini membuat siswa pasif karena siswa berada dalam rutinitas yang membosankan sehingga pembelajaran kurang menarik. Selain itu karena siswa lebih banyak menghafal dan tidak berlatih berfikir memecahkan masalah yang dihadapi sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna.
            Kondisi tersebut menyebabkan rendahnya perolehan hasil belajar IPA khususnya penguasaan konsep pada siswa. Rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan oleh berbagai hal, termasuk di dalamnya guru kurang kreatif dalam penyampaian bahan pelajaran karena hanya menggunakan cara klasikal tanpa memperhatikan pengunaan metode dan teknik yang tepat, sehingga dalam pembelajaran tidak ada peningkatan aktivitas siswa maupun guru. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
            Atas dasar rendahnya perolehan hasil pembelajaran IPA tersebut, dan diperkuat dengan penelitian oleh Imron Fauzi dengan judul “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dalam Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Sains Siswa Kelas IV di MIMA Miftahul Huda Puger Jember “ yang dilakukan pada bulan April-Mei 2008 dan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khusnul Khotmawati yang berjudul  “Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Wicara Siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang“, dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa. Penulis ingin memperbaiki proses pembelajaran IPA di kelas IV dengan menerapkan  pendekatan Jigsaw dalam penguasaan konsep IPA. Hal ini diharapkan agar siswa mempunyai pengetahuan yang benar sesuai dengan konsepnya. Pendekatan Jigsaw dapat memberikan keterampilan dan kemampuan kepada siswa untuk menjadi ahli dengan menjelaskan dan menerangkan kembali bagian materi yang dikuasai kepada siswa lainnya. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka penulis tergerak untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “ Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Pendekatan Jigsaw Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang“.

B.  Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw aktivitas belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang dapat meningkat?
2.      Apakah melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kreativitas mengajar guru dalam pembelajaran IPA kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang?
3.      Apakah melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang?

Pemecahan Masalah
            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka peneliti akan menerapkan pendekatan Jigsaw dalam pembelajaran IPA. Karena melalui pendekatan Jigsaw diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat secara optimal sesuai dengan yang diharapkan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1.      Pembentukan kelompok heterogen (asal)
2.      Tiap siswa dalam kelompok asal diberi materi yang berbeda
3.      Anggota dari kelompok yang berbeda dengan materi yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4.      Diskusi kelompok ahli
5.      Tiap anggota dari kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang materi yang dikuasai
6.      Tiap kelompok ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.       Refleksi

C.  Tujuan Penelitian
            Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.      Meningkatkan aktivitas belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw.
2.      Meningkatkan kreativitas mengajar guru dalam pembelajaran IPA kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw.
3.      Meningkatkan hasil belajar IPA melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw pada siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang

D.  Manfaat Penelitian
            Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik bersifat teoritis maupun praktis
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan untuk kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pembelajaran IPA.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa
Sebagai sarana meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran IPA
Sebagai sarana meningkatkan hasil belajar IPA
b.      Bagi guru
Sebagai bahan masukan sehingga dapat dijadikan landasan kerja bagi guru kelas dalam mengajarkan pembelajaran IPA yang menyenangkan.
c.       Bagi sekolah
Sebgai sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan pembelajaran IPA pada khususnya dan pembelajaran lain pada umumnya.


 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Kajian Teoritis
1. Hakikat Hasil Belajar
            Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004:4). Menurut Dimyati dalam Ranti (2007:12) dalam http:/one.indoskripsi.com adalah hasil proses belajar dimana pelaku aktif dalam belajar adalah siswa dan pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru
             Howart Lingsly membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan keterampilan, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dari kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima hasil belajar yakni (a) informasi verbal, (b) ketrampilan verbal, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan pendidikan baik tujuan kurikulum maupun tujuan instraksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloon yang secara garis besar membaginya mernjadi tiga ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik (Sudjana, 2002:22).

8
 
            Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.  Ranah  psikomotor  berkenaan  dengan  hasil belajar ketrampilan
dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek dalam ranah psikomotor (a) gerakan refleks, (b) Ketrampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perceptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan ketrampilan, (f) gerakan ekspresif dan interpreatif.
            Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pengajaran.
            Berdasarkan uraian di atas maka dapat diperoleh suatu pengertian bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar yang diwujudkan berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.

2. Pembelajaran IPA di SD
    a. Hakikat IPA
            IPA merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal (Suyoso, 1998:23) dalam http:/juhji-science-sd.blog.com.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi prospek pengembangan sehari-hari (Sri Sulistyorini, 2007:39).
            IPA dikatakan dapat terjadi dari dua unsur, hasil IPA dan cara kerja memperoleh hasil itu. Hasil produk IPA berupa fakta-fakta seperti hukum-hukum, prinsip-prinsip, klasifikasi, struktur dan lain sebagainya. Cara kerja memperoleh hasil itu disebut proses IPA. Dalam proses IPA terkandung cara kerja, sikap dan cara berfikir. Kemajuan IPA yang pesat disebabkan oleh proses ini. Dalam memecahkan suatu masalah seorang ilmuwan sering berusaha mengambil suatu masalah yang memungkinkan usaha mencapai hasil yang diharapkan. Sikap ini dikenal dengan sikap ilmiah.
            Beberapa ciri sikap ilmiah itu adalah :
1)      Objektif terhadap fakta, artinya tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang
2)      Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang menyokong kesimpulan itu.
3)      Berhati terbuka, artinya mempertimbangkan pendapat atau penemuan orang lain sekalipun pendapat atau penemuan itu bertentangan dengan penemuannya sendiri.
4)      Tidak mencampuradukkan fakta dengan pendapat.
5)      Bersifat hati-hati.
6)      Ingin menyelidiki (Srini M. Iskandar, 2001:13-14)
            Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pada prinsipnya, mempelajari IPA sebagai cara mencari tahu dan cara mengerjakan atau melakukan sehingga dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara lebih mendalam.
            Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa IPA merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan dan memiliki sikap ilmiah.

b. Tujuan IPA
      Pembelajaran IPA di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
1.      Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains, teknologi, dan masyarakat
2.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
3.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
4.      Mengembangkan kesadaran tentang pesan dan pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari
5.      Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman kebidang pengajaran lain
6.      Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
7.      Menghargai berbagai macam bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini untuk dipelajari. (Sri Sulistyorini, 2007:42)

      C. Prinsip-prinsip pembelajaran IPA
            Menurut Sri Sulistyorini (2007:43) untuk mengajarkan IPA dikenal beberapa pendekatan, yakni (1) pendekatan kepada fakta-fakta, (2) pendekatan konsep, (3) pendekatan proses. Pendekatan yang menggunakan pendekatan faktual terutama bermaksud menyodorkan penemuan-penemuan IPA. Pendekatan ini tidak mencerminkan gambaran yang sebenarnya tentang sifat IPA. Selanjutnya pendekatan konsep adalah suatu ide yang mengikat banyak fakta menjadi satu. Untuk memahami suatu konsep, anak perlu bekerja dengan objek-objek yang kongkret, memperoleh fakta-fakta, melakukan eksplorasi dan memanipulasi ide secara mental, tidak sekedar menghafal. Oleh karena itu, pendekatan konsep memberikan  gambaran yang lebih jelas tentang IPA dibandingkan dengan pendekatan faktual. Kemudian suatu pendekatan proses dalam pembelajaran IPA didasarkan atas pengamatan yang disebut sebagai keterampilan proses dalam IPA.
            Pembelajaran dalam keterampilan proses dapat diartikan untuk memahami suatu konsep, siswa tidak diberi tahu oleh guru, tetapi guru memberi peluang pada siswa untuk memperoleh dan menemukan konsep melalui pengalaman siswa dengan mengembangkan keterampilan dasar melalui percobaan membuat kesimpulan sehingga mampu melakukan penelitian sederhana yang tahap pengembangannya disesuaikan dari tahapan suatu proses penelitian atau eksperimen, yakni meliputi : (1) observasi, (2) klasifikasi, (3) interprestasi, (4) prediksi, (5) hipotesis, (6) mengendalikan variable, (7) merencanakan dan melaksanakan penelitian, (8) inferensi, (9) aplikasi, (10) komunikasi. ( Sri Sulistyorini, 2007:9-10 )
            Dari uraian di atas, pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang sesuai. Karena dalam pembelajaran itu siswa memperoleh dan menemukan konsep melalui pengalaman sendiri, sekaligus belajar proses dan produk. Jadi dalam pembelajaran yang menggunakan keterampilan proses terkandung dimensi proses, produk dan pengembangan sikap. 

D. Hasil Belajar IPA
      Menurut Anni (2004: 4) hasil belajar atau prestasi belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Penguasaan hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik.
      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA merupakan tingkat penguasaan terhadap suatu hal setelah mengalami proses dan aktivitas belajar mata pelajaran IPA dan dinyatakan dengan nilai yang meliputi keterampilan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik. Hasil belajar IPA merupakan kemampuan yang dapat diukur berupa penguasaan ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai hasil dari kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran IPA.

3.  Hakikat Kreativitas
a.      Definisi Kreativitas
Pengertian kreativitas melingkupi empat dimensi yang dikenal dengan sebutan Four P's of Creativity, yakni dimensi Person, Process, Press, dan Product. Kreativitas dari segi pribadi (person) menunjukkan potensi daya kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas sebagai suatu proses (process) dirumuskan sebagai suatu bentuk pemikiran masing-masing individu berusaha menemukan hubungan-hubungan yang baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah.  Kreativitas sebagai suatu pendorong (press) yang datang dari diri sendiri (internal) berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi. Definisi kreativitas dari segi hasil (product) seperti dikemukakan Baron (1976): Creativity is the ability to bring something new into existence. Artinya, segala sesuatu yang diciptakan oleh sesorang sebagai hasil dari keunikan pribadinya dalam interaksi dengan lingkungannya. (Monty, 2003:108)
Menurut Monty dan Fidelis (2003:109) kreativitas pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri berpikir kreatif maupun berpikir afektif, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada.
b.      Pengembangan Kreativitas Oleh Guru
Guru yang kreatif adalah guru yang dapat bertindak sebagai manajer, direktur, fasilitator, sekaligus motivator bagi peserta didik untukmnciptakan kondisi kegiatan pembelajaran yang kondusif.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru yang kreatif antara lain pengaturan kelas, ruang pengajaran yang yang menyenangkan, persiapan guru dalam mengembangkan gagasan kreatif, sikap positif guru, dan metode atau teknik belajar yang kreatif. Dengan demikian, siswa tidak lagi mengalami kebosanan dalam setiap pembelajaran

4.  Pendekatan Jigsaw
       a. Hakikat Pendekatan
            Pendekatan pembelajaran dalam http:/smacepiring.wordpress.com dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach ) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru ( techer centered approach ).
            Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1.      Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.      Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.      Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.      Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur dan patokan ukuran standart untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
            Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah :
1.      Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik
2.      Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif
3.      Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan tekhnik pembelajaran
4.      Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan
b. Hakikat Jigsaw
            Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Arronson dkk di Universitas Texas pada tahun 1978. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama  positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompk yang lain. Menurut Wardani (2002) model pembelajaran Jigsaw adalah model pembelajaran yang mendorong siswa beraktivitas saling membantu dalam menguasai mata pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Aronson (1997) model pembelajaran Jigsaw menyangkut kerjasama dan saling ketergantungan antara siswa.
            Keunggulan kooperatif tipe Jigsaw adalah meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Meningkatkan kerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
            Dalam pembelajaran koperatif Jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus terampil dan mengetahui latar belakang siswa  agar tercipta suasana yang baik bagi setiap anggota kelompok. Sedangkan kelompok ahli adalah kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi-materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Di sini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang didapatkan pada saat diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal. Kunci pendekatan kooperatif tipe Jigsaw ini adalah Interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggung jawab dan kerjasama yang positif dan  saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. ( Http:/ipotes.wordpress.com2008/05/15pembelajaran-kooperatif-tipe-Jigsaw)

Chart 1. Kelompok asal (5 anggota heterogen yang dikelompokan)

A2 B2 C2       D2 E2
 


A3 B3 C3       D3 E3
 


A4 B4 C4       D4 E4
 


A5 B5 C5       D5 E5
 


A1 B1 C1       D1 E1
 
           










( Tiap kelompok ahli memiliki satu anggota dari tiap kelompok asal )
Gambar 1. Ilustrasi yang menunjukkan tim Jigsaw

c. Penghargaan tim/kelompok ahli
 Skor kelompok ini dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok seperti tercantum pada tabel di bawah ini.       

Tabel 1. Tabel penghargaan kelompok
RATA-RATA TIM
PREDIKAT
0 < x < 5
-
5 ≤ x < 15
TIM BAIK
15 ≤ x < 25
TIM HEBAT
25 ≤ x ≤ 30
TIM SUPER
(Ratumanan dalam Trianto, 2007:56)

B.  Kajian Empiris
            Dalam http://ImronFauzi.Wordpress.com, bahwa penelitian yang dilakukan oleh Imron Fauzi dengan judul “ Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dalam Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Sains Siswa Kelas IV di MIMA Miftahul Huda Puger Jember “ yang dilakukan pada bulan April-Mei 2008 yang menggunakan strategi Jigsaw mengemukakan hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa yang sebelumnya memperoleh nilai di atas 70 hanya sebanyak 7 siswa (27 %) pada siklus I mengalami peningkatan, siswa yang memperoleh nilai di atas 70 menjadi 23 (88 %). Kemudian pada siklus II jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas 70 sebanyak 25 siswa (97 %).
Penelitaian yang dilakukan oleh Khusnul Khotmawati yang berjudul  “  Penerapan Metode Jigsaw Untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Wicara Siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang “, dengan hasil penelitian yang menunjukan bahwa metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Zaeny Rahmawati yang berjudul “Model Pembelajaran Membaca Dengan Pendekatan Kooperatif Jigsaw di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang” dengan hasil penelitian dapat meningkatkan kemampuan qiroah/membaca dan motivasi belajar.
Dalam Http//:oneindoskripsi.com, bahwa penelitian yang dilakukan Masrifai dengan judul ”Perbedaan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Pembelajaran Konvensional”, dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa dalam kelompok kooperatif tipe jigsaw (82,61%), lebih tinggi dari pada kelompok konvensional (43,48%).
Daroni (2002:237) menyatakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw menggabungkan kegiatan, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Pendekatan kooperatif Jigsaw bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa. Model ini cocok untuk semua kelas atau tingkatan. Dengan model ini guru memperhatikan skema atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa membantu siswa mengaktifkan skema ini agar bahan pelajaran lebih bermakna. Selain itu siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan  meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Dengan demikian dapat diperoleh berbagai keuntungan yaitu prestasi akademis yang lebih tinggi, penggunaan metode diskusi lebih sering, motivasi meningkat, sikap terhadap teman sebaya meningkat, sikap positif terhadap pelajaran dan sekolah, serta keterampilan bekerja sama lebih baik.

C.  Kerangka Berfikir
            Proses pembelajaran merupakan interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam proses pembelajaran baik guru maupun siswa dituntut aktif dalam proses  pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan suatu metode pembelajaran sebagai sarana untuk mendorong keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar atau prestasi siswa. Salah satu diantaranya adalah menggunakan pembelajaran melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw.
            Kondisi awal pembelajaran sebelum menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw pembelajaran lebih berpusat pada guru, siswa mengalami kesulitan belajar IPA, sehinggga mengakibatkan hasil belajar IPA rendah. Kemudian peneliti memotivasi siswa dan menerapkan pendekatan Jigsaw dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA menggunakan metode ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan pengetahuan secara mandiri, sikap dan keterampilannya. Selain itu komponen-komponen yang terstruktur dalam metode ini memungkinkan terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif bagi siswa untuk belajar sehingga dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, bekerjasama dengan teman secara efektif, berinteraksi dengan guru sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung efektif. Hal ini akan berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar siswa yang lebih baik.


Chart 2. Kerangka berfikir

D.  Hipotesis Tindakan
            Berdasarkan uraian pada kajian pustaka dan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw, aktivitas siswa, kreativitas guru dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang tahun pelajaran 2008/2009 dapat ditingkatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar