PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
IPA merupakan konsep
pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan
kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan
juga perkembangan teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan
minat siswa serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum
terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga fakta penemuannya dapat
dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam baru dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut Suyoso (1998:23) dalam http:/juhji-science-sd.blog.com,
IPA merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat metode tertentu
yaitu temperatur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal.
|
Empat pilar pendidikan.“Learning to do, learning to know,
learning to be, and learning to livetogether” yang dicanangkan oleh UNESCO merupakan salah satu pendekatan
yang perlu digunakan di dalam pembelajaran sains di kelas. Siswa harus
diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya
(learning to do),
mampu membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia di sekitarnya (learning to know), mampu membangun pengetahuan dan
kepercayaan diri dan sekaligus membangun jati diri (learning
to be), mampu membentuk kepribadiannya untuk
memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap
keanekaragaman dan perbedaan hidup (learning to live
together). Belajar
melalui pengalaman (Learning by doing) dalam bentuk eksplorasi dan
memanipulasi akan menjadikan sesuatu yang dipelajari diingat untuk waktu yang
lama (Long-tern memory). Dan khususnya bagi anak-anak usia sekolah
dasar, sesuai dengan tahap perkembangannya, mereka lebih mudah memahami suatu
fenomena malalui pengalaman kongkrit dibandingkan hanya mendengar dari guru
saja. Dalam “pembelajaran melalui menemukan “intinya adalah kerja kelompok,
penugasan, dan berbagi informasi. Dalam hal ini guru perlu merancang
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menentukan hasil
belajar siswa dan merancang tugas
2. Merancang tahapan
atau langkah-langkah sebagai pedoman kegiatan siswa
3. Memastikan siswa
telah memahami konsep dan prinsip yang relevan
4. Menugaskan siswa
dalam kerja kelompok/individual
5. Memberi kesempatan
siswa melaporkan temuannya dan mendorong mereka mengidentifikasi bagaimana
mereka dapat menerapkan temuan mereka dalam konteks yang lain.
6.
Memberi balikan dan pengayaan sebagaimana
diperlukan. (Udin S.
Winaputra, 2008:6.25)
Data yang diperoleh penulis dari hasil tes
formatif pada mata pelajaran IPA pokok bahasan Energi pada siswa kelas IV SD
Negeri Sengon 01 Subah Batang sungguh memprihatinkan. Kelas IV yang terdiri
dari 40 siswa (Lk:21, P:19) 12,82 % (mendapatkan nilai 80-85), 23,07 %
(mendapatkan nilai70-79), 35,89 % (mendapatkan nilai 60-69), 28,20 %
(mendapatkan nilai 50-59). Mata
pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang disukai siswa. Siswa sebagai
individu dalam kelas hanya duduk mendengarkan, mencatat, dan mengulang kembali
di rumah serta menghafal untuk menghadapi ulangan, ketika mengikuti kegiatan
pembelajaran sering tidak memperhatikan penjelasan dari guru, dan rendahnya
motivasi untuk mengikuti pelajaran. Begitu juga peranan siswa dalam sebuah
kelompok, rendahnya motivasi dan gairah dalam diskusi kelompok dan lebih
mengandalkan temannya yang lebih pintar untuk menyelesaikan masalah atau tugas
yang diberikan guru tanpa adanya suatu pemikiran bahwa menyelesaikan tugas atau
diskusi kelompok menjadi tanggung jawab setiap anggota kelompok. Akibatnya rata-rata hasil belajar siswa cenderung lebih rendah dibandingkan
mata pelajara lainnya. Rendahnya hasil belajar IPA siswa dibanding mata
pelajaran lain karena guru kurang kreatif dalam penyampaian materi
pembelajaran. Guru lebih berfungsi sebagai instruktur yang sangat aktif dan
siswa sebagai penerima pengetahuan yang pasif. Pembelajaran seperti ini membuat
siswa pasif karena siswa berada dalam rutinitas yang membosankan sehingga
pembelajaran kurang menarik. Selain itu karena siswa lebih banyak menghafal dan
tidak berlatih berfikir memecahkan masalah yang dihadapi sehingga pembelajaran
menjadi kurang bermakna.
Kondisi
tersebut menyebabkan rendahnya perolehan hasil belajar IPA khususnya penguasaan
konsep pada siswa. Rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan oleh berbagai
hal, termasuk di dalamnya guru kurang kreatif dalam penyampaian bahan pelajaran
karena hanya menggunakan cara klasikal tanpa memperhatikan pengunaan metode dan
teknik yang tepat, sehingga dalam pembelajaran tidak ada peningkatan aktivitas
siswa maupun guru. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban
menyediakan lingkungan belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
Atas dasar rendahnya perolehan hasil
pembelajaran IPA tersebut, dan diperkuat dengan penelitian oleh Imron Fauzi
dengan judul “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dalam Meningkatkan Keaktifan dan
Hasil Belajar Sains Siswa Kelas IV di MIMA Miftahul Huda Puger Jember “ yang
dilakukan pada bulan April-Mei 2008 dan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Khusnul Khotmawati yang berjudul
“Penerapan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Wicara
Siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang“, dengan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa.
Penulis ingin memperbaiki proses pembelajaran IPA di kelas IV dengan
menerapkan pendekatan Jigsaw dalam
penguasaan konsep IPA. Hal ini diharapkan agar siswa mempunyai pengetahuan yang
benar sesuai dengan konsepnya. Pendekatan Jigsaw dapat memberikan keterampilan
dan kemampuan kepada siswa untuk menjadi ahli dengan menjelaskan dan
menerangkan kembali bagian materi yang dikuasai kepada siswa lainnya. Berdasarkan
pada latar belakang tersebut, maka penulis tergerak untuk melakukan penelitian
tindakan kelas dengan judul “ Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Pendekatan Jigsaw
Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang“.
B.
Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut :
1. Apakah melalui
pendekatan kooperatif tipe Jigsaw aktivitas belajar IPA siswa kelas IV SD
Negeri Sengon 01 Subah Batang dapat meningkat?
2. Apakah melalui
pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kreativitas mengajar guru
dalam pembelajaran IPA kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang?
3. Apakah melalui
pendekatan kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa
kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang?
Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, maka peneliti akan menerapkan pendekatan Jigsaw dalam
pembelajaran IPA. Karena melalui pendekatan Jigsaw diharapkan hasil belajar
siswa dapat meningkat secara optimal sesuai dengan yang diharapkan. Adapun
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1.
Pembentukan
kelompok heterogen (asal)
2. Tiap siswa dalam
kelompok asal diberi materi yang berbeda
3. Anggota dari kelompok
yang berbeda dengan materi yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4.
Diskusi
kelompok ahli
5.
Tiap
anggota dari kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada
anggota kelompok tentang materi yang dikuasai
6. Tiap kelompok ahli
mempresentasikan hasil diskusi
7.
Refleksi
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan
dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan
aktivitas belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang melalui
pendekatan kooperatif tipe Jigsaw.
2. Meningkatkan kreativitas
mengajar guru dalam pembelajaran IPA kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah Batang
melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw.
3.
Meningkatkan
hasil belajar IPA melalui pendekatan kooperatif tipe Jigsaw pada siswa kelas IV
SD Negeri Sengon 01 Subah Batang
D. Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat memberi manfaat baik bersifat teoritis maupun praktis
1.
Manfaat
Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan
masukan untuk kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
pembelajaran IPA.
2.
Manfaat
Praktis
a.
Bagi siswa
Sebagai sarana meningkatkan aktivitas dalam
pembelajaran IPA
Sebagai sarana meningkatkan hasil belajar IPA
b.
Bagi guru
Sebagai bahan masukan sehingga dapat dijadikan landasan kerja bagi
guru kelas dalam mengajarkan pembelajaran IPA yang menyenangkan.
c.
Bagi
sekolah
Sebgai sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan pembelajaran
IPA pada khususnya dan pembelajaran lain pada umumnya.
|
|
KAJIAN
PUSTAKA
A. Kajian
Teoritis
1. Hakikat Hasil Belajar
Hasil
belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami
aktivitas belajar (Anni, 2004:4). Menurut Dimyati dalam Ranti (2007:12) dalam http:/one.indoskripsi.com
adalah hasil proses belajar dimana pelaku aktif dalam belajar adalah siswa dan
pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru
Howart Lingsly membagi tiga macam hasil
belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan keterampilan,
(c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan
yang telah ditetapkan dari kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima hasil
belajar yakni (a) informasi verbal, (b) ketrampilan verbal, (c) strategi
kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan
nasional rumusan pendidikan baik tujuan kurikulum maupun tujuan instraksional,
menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloon yang secara garis
besar membaginya mernjadi tiga ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik
(Sudjana, 2002:22).
|
dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek
dalam ranah psikomotor (a) gerakan refleks, (b) Ketrampilan gerakan dasar, (c)
kemampuan perceptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan ketrampilan,
(f) gerakan ekspresif dan interpreatif.
Ketiga
ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah
tersebut, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di
sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai bahan
pengajaran.
Berdasarkan
uraian di atas maka dapat diperoleh suatu pengertian bahwa hasil belajar adalah
kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar yang diwujudkan berupa
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.
2. Pembelajaran IPA di SD
a. Hakikat IPA
IPA
merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang aktif dan dinamis tiada
henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur,
sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal (Suyoso, 1998:23)
dalam http:/juhji-science-sd.blog.com.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi prospek pengembangan
sehari-hari (Sri Sulistyorini, 2007:39).
IPA
dikatakan dapat terjadi dari dua unsur, hasil IPA dan cara kerja memperoleh
hasil itu. Hasil produk IPA berupa fakta-fakta seperti hukum-hukum,
prinsip-prinsip, klasifikasi, struktur dan lain sebagainya. Cara kerja
memperoleh hasil itu disebut proses IPA. Dalam proses IPA terkandung cara
kerja, sikap dan cara berfikir. Kemajuan IPA yang pesat disebabkan oleh proses
ini. Dalam memecahkan suatu masalah seorang ilmuwan sering berusaha mengambil
suatu masalah yang memungkinkan usaha mencapai hasil yang diharapkan. Sikap ini
dikenal dengan sikap ilmiah.
Beberapa
ciri sikap ilmiah itu adalah :
1) Objektif terhadap
fakta, artinya tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang
2) Tidak tergesa-gesa
mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang menyokong kesimpulan itu.
3) Berhati terbuka,
artinya mempertimbangkan pendapat atau penemuan orang lain sekalipun pendapat
atau penemuan itu bertentangan dengan penemuannya sendiri.
4) Tidak mencampuradukkan
fakta dengan pendapat.
5)
Bersifat
hati-hati.
6) Ingin menyelidiki (Srini
M. Iskandar, 2001:13-14)
Ilmu
Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa
mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam
sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah
antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pada
prinsipnya, mempelajari IPA sebagai cara mencari tahu dan cara mengerjakan atau
melakukan sehingga dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara
lebih mendalam.
Dari pengertian di atas dapat dipahami
bahwa IPA merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk
menguasai pengetahuan fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses
penemuan dan memiliki sikap ilmiah.
b. Tujuan IPA
Pembelajaran
IPA di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
1. Mengembangkan rasa
ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains, teknologi, dan masyarakat
2. Mengembangkan keterampilan
proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
3. Mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
4. Mengembangkan
kesadaran tentang pesan dan pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari
5. Mengalihkan
pengetahuan, keterampilan dan pemahaman kebidang pengajaran lain
6. Ikut serta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
7.
Menghargai berbagai macam bentuk ciptaan Tuhan di
alam semesta ini untuk dipelajari. (Sri Sulistyorini,
2007:42)
C. Prinsip-prinsip
pembelajaran IPA
Menurut Sri
Sulistyorini (2007:43) untuk mengajarkan IPA dikenal beberapa pendekatan, yakni
(1) pendekatan kepada fakta-fakta, (2) pendekatan konsep, (3) pendekatan
proses. Pendekatan yang
menggunakan pendekatan faktual terutama bermaksud menyodorkan penemuan-penemuan
IPA. Pendekatan ini tidak mencerminkan gambaran yang sebenarnya tentang sifat
IPA. Selanjutnya pendekatan konsep adalah suatu ide yang mengikat banyak fakta
menjadi satu. Untuk memahami suatu konsep, anak perlu bekerja dengan
objek-objek yang kongkret, memperoleh fakta-fakta, melakukan eksplorasi dan
memanipulasi ide secara mental, tidak sekedar menghafal. Oleh karena itu,
pendekatan konsep memberikan gambaran
yang lebih jelas tentang IPA dibandingkan dengan pendekatan faktual. Kemudian
suatu pendekatan proses dalam pembelajaran IPA didasarkan atas pengamatan yang
disebut sebagai keterampilan proses dalam IPA.
Pembelajaran
dalam keterampilan proses dapat diartikan untuk memahami suatu konsep, siswa
tidak diberi tahu oleh guru, tetapi guru memberi peluang pada siswa untuk
memperoleh dan menemukan konsep melalui pengalaman siswa dengan mengembangkan
keterampilan dasar melalui percobaan membuat kesimpulan sehingga mampu melakukan
penelitian sederhana yang tahap pengembangannya disesuaikan dari tahapan suatu proses
penelitian atau eksperimen, yakni meliputi : (1) observasi, (2) klasifikasi,
(3) interprestasi, (4) prediksi, (5) hipotesis, (6) mengendalikan variable, (7)
merencanakan dan melaksanakan penelitian, (8) inferensi, (9) aplikasi, (10)
komunikasi. ( Sri Sulistyorini, 2007:9-10 )
Dari
uraian di atas, pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang
sesuai. Karena dalam pembelajaran itu siswa memperoleh dan menemukan konsep
melalui pengalaman sendiri, sekaligus belajar proses dan produk. Jadi dalam
pembelajaran yang menggunakan keterampilan proses terkandung dimensi proses,
produk dan pengembangan sikap.
D. Hasil Belajar IPA
Menurut Anni
(2004: 4) hasil belajar atau prestasi belajar merupakan perubahan perilaku yang
diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Penguasaan hasil
belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk
penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar IPA merupakan tingkat penguasaan terhadap suatu
hal setelah mengalami proses dan aktivitas belajar mata pelajaran IPA dan
dinyatakan dengan nilai yang meliputi keterampilan pengetahuan, keterampilan
berfikir maupun keterampilan motorik. Hasil belajar IPA merupakan kemampuan
yang dapat diukur berupa penguasaan ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan
sebagai hasil dari kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran IPA.
3. Hakikat Kreativitas
a.
Definisi
Kreativitas
Pengertian
kreativitas melingkupi empat dimensi yang dikenal dengan sebutan Four P's of Creativity, yakni dimensi Person, Process, Press, dan Product. Kreativitas dari segi pribadi
(person) menunjukkan potensi daya
kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas sebagai suatu proses (process) dirumuskan sebagai suatu bentuk
pemikiran masing-masing individu berusaha menemukan hubungan-hubungan yang
baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu
masalah. Kreativitas sebagai suatu
pendorong (press) yang datang dari
diri sendiri (internal) berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi. Definisi kreativitas dari segi
hasil (product) seperti dikemukakan Baron (1976): Creativity is the ability to bring something new into existence.
Artinya, segala sesuatu yang diciptakan oleh sesorang sebagai hasil dari
keunikan pribadinya dalam interaksi dengan lingkungannya. (Monty, 2003:108)
Menurut Monty dan
Fidelis (2003:109) kreativitas pada dasarnya merupakan kemampuan seseorang
untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata,
baik dalam bentuk ciri-ciri berpikir kreatif maupun berpikir afektif, baik
dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada.
b. Pengembangan Kreativitas Oleh Guru
Guru
yang kreatif adalah guru yang dapat bertindak sebagai manajer, direktur,
fasilitator, sekaligus motivator bagi peserta didik untukmnciptakan kondisi
kegiatan pembelajaran yang kondusif.
Hal-hal
yang dapat dilakukan oleh seorang guru yang kreatif antara lain pengaturan
kelas, ruang pengajaran yang yang menyenangkan, persiapan guru dalam
mengembangkan gagasan kreatif, sikap positif guru, dan metode atau teknik
belajar yang kreatif. Dengan demikian, siswa tidak lagi mengalami kebosanan
dalam setiap pembelajaran
4. Pendekatan Jigsaw
a. Hakikat Pendekatan
Pendekatan
pembelajaran dalam http:/smacepiring.wordpress.com dapat diartikan
sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang
merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach ) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau
berpusat pada guru ( techer centered approach ).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah
ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan
Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap
usaha, yaitu :
1. Mengidentifikasi dan
menetapkan spesifikasi dan kualifikasi (out put) dan sasaran (target)
yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang
memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan
memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk
mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan
menetapkan langkah-langkah yang akan ditempuh sejak titik awal sampai dengan
sasaran.
4. Mempertimbangkan dan
menetapkan tolak ukur dan patokan ukuran standart untuk mengukur dan menilai
taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika
kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah :
1. Menetapkan
spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku
dan pribadi peserta didik
2. Mempertimbangkan dan
memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif
3. Mempertimbangkan dan
menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan tekhnik pembelajaran
4. Menetapkan
norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku
keberhasilan
b. Hakikat
Jigsaw
Pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Arronson dkk di
Universitas Texas pada tahun 1978. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil
yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab
untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan
materi tersebut kepada anggota kelompk yang lain. Menurut Wardani (2002) model
pembelajaran Jigsaw adalah model pembelajaran yang mendorong siswa beraktivitas
saling membantu dalam menguasai mata pelajaran untuk mencapai prestasi yang
maksimal. Aronson (1997) model pembelajaran Jigsaw menyangkut kerjasama dan
saling ketergantungan antara siswa.
Keunggulan
kooperatif tipe Jigsaw adalah meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya
mempelajari materi yang diberikan tetapi mereka juga harus siap memberikan dan
mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Meningkatkan kerjasama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Dalam
pembelajaran koperatif Jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal.
Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari beberapa anggota kelompok
ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru
harus terampil dan mengetahui latar belakang siswa agar tercipta suasana yang baik bagi setiap
anggota kelompok. Sedangkan kelompok ahli adalah kelompok siswa yang terdiri
dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik
tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Para anggota
dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok
ahli untuk berdiskusi dan membahas materi-materi yang ditugaskan pada
masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari
topik mereka tersebut. Di sini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi
para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan.
Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada
kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka
dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Para kelompok ahli harus mampu
untuk membagi pengetahuan yang didapatkan pada saat diskusi di kelompok ahli,
sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal.
Kunci pendekatan kooperatif tipe Jigsaw ini adalah Interdependence setiap
siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya
para siswa harus memiliki tanggung jawab dan kerjasama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan
informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. ( Http:/ipotes.wordpress.com2008/05/15pembelajaran-kooperatif-tipe-Jigsaw)
Chart 1. Kelompok
asal (5 anggota heterogen yang dikelompokan)
|
|
|
|
|
![]() |
( Tiap kelompok ahli memiliki
satu anggota dari tiap kelompok asal )
Gambar 1. Ilustrasi yang
menunjukkan tim Jigsaw
c. Penghargaan tim/kelompok
ahli
Skor kelompok ini dihitung dengan membuat
rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor
perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan anggota kelompok.
Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor
kelompok seperti tercantum pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Tabel penghargaan
kelompok
RATA-RATA TIM
|
PREDIKAT
|
0 < x < 5
|
-
|
5 ≤ x < 15
|
TIM BAIK
|
15 ≤ x < 25
|
TIM HEBAT
|
25 ≤ x ≤ 30
|
TIM SUPER
|
(Ratumanan dalam Trianto,
2007:56)
B. Kajian Empiris
Dalam
http://ImronFauzi.Wordpress.com,
bahwa penelitian yang dilakukan oleh Imron Fauzi dengan judul “ Pembelajaran
Kooperatif Jigsaw Dalam Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Sains Siswa
Kelas IV di MIMA Miftahul Huda Puger Jember “ yang dilakukan pada bulan
April-Mei 2008 yang menggunakan strategi Jigsaw mengemukakan hasil penelitian
menunjukkan bahwa metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa
yang sebelumnya memperoleh nilai di atas 70 hanya sebanyak 7 siswa (27 %) pada
siklus I mengalami peningkatan, siswa yang memperoleh nilai di atas 70 menjadi
23 (88 %). Kemudian pada siklus II jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas 70
sebanyak 25 siswa (97 %).
Penelitaian yang dilakukan oleh
Khusnul Khotmawati yang berjudul “ Penerapan Metode Jigsaw Untuk Meningkatkan
Keterampilan Menyimak Wicara Siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang “, dengan
hasil penelitian yang menunjukan bahwa metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil
belajar dan keaktifan siswa.
Penelitian
yang dilakukan oleh Zaeny Rahmawati yang berjudul “Model Pembelajaran Membaca
Dengan Pendekatan Kooperatif Jigsaw di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra
Universitas Negeri Malang” dengan hasil penelitian dapat meningkatkan kemampuan
qiroah/membaca dan motivasi belajar.
Dalam
Http//:oneindoskripsi.com, bahwa penelitian yang dilakukan Masrifai dengan
judul ”Perbedaan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Pembelajaran Konvensional”, dengan hasil
penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa dalam kelompok
kooperatif tipe jigsaw (82,61%), lebih tinggi dari pada kelompok konvensional
(43,48%).
Daroni
(2002:237) menyatakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw menggabungkan
kegiatan, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Pendekatan kooperatif Jigsaw
bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan
alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa. Model ini cocok
untuk semua kelas atau tingkatan. Dengan model ini guru memperhatikan skema
atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa membantu siswa
mengaktifkan skema ini agar bahan pelajaran lebih bermakna. Selain itu siswa
bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai
banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Dengan demikian dapat diperoleh
berbagai keuntungan yaitu prestasi akademis yang lebih tinggi, penggunaan
metode diskusi lebih sering, motivasi meningkat, sikap terhadap teman sebaya
meningkat, sikap positif terhadap pelajaran dan sekolah, serta keterampilan
bekerja sama lebih baik.
C. Kerangka
Berfikir
Proses pembelajaran merupakan
interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar. Dalam proses pembelajaran baik guru maupun siswa dituntut aktif dalam
proses pembelajaran. Berdasarkan hal
tersebut dibutuhkan suatu metode pembelajaran sebagai sarana untuk mendorong
keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar atau
prestasi siswa. Salah satu diantaranya adalah menggunakan pembelajaran melalui
pendekatan kooperatif tipe Jigsaw.
Kondisi awal pembelajaran sebelum
menggunakan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw pembelajaran lebih berpusat pada
guru, siswa mengalami kesulitan belajar IPA, sehinggga mengakibatkan hasil
belajar IPA rendah. Kemudian peneliti memotivasi siswa dan menerapkan
pendekatan Jigsaw dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA menggunakan metode
ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan
pengetahuan secara mandiri, sikap dan keterampilannya. Selain itu
komponen-komponen yang terstruktur dalam metode ini memungkinkan terciptanya
kondisi pembelajaran yang kondusif bagi siswa untuk belajar sehingga dapat
meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, bekerjasama dengan teman
secara efektif, berinteraksi dengan guru sehingga proses pembelajaran dapat
berlangsung efektif. Hal ini akan berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar
siswa yang lebih baik.

Chart 2. Kerangka berfikir
D. Hipotesis
Tindakan
Berdasarkan uraian pada kajian
pustaka dan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian
ini adalah dengan pendekatan kooperatif tipe Jigsaw, aktivitas siswa,
kreativitas guru dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Sengon 01 Subah
Batang tahun pelajaran 2008/2009 dapat ditingkatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar